Senin 6 Juli 2026 - 12:42
Qom, Manifestasi Kehormatan dalam Duka Imam Syahid

Hawzah/ Inilah kota ilmu, fikih, dan kebangkitan; tempat di mana hawzah-hawzah ilmiyah, tidak hanya dalam kapasitasnya sebagai lembaga pendidikan, tetapi dalam wujud para pelayan yang penuh cinta, mengibarkan panji-panji pelayanan untuk mengukir lembaran baru dalam sejarah tentang ikatan tak terpisahkan antara "umat dan kepemimpinan".

Berita Hawzah  Di hari-hari ketika langit Qom diliputi suasana duka kehilangan "Imam Syahid", jalan-jalan kota suci ini berubah menjadi hamparan luas sebuah tenda duka. Dari ruang-ruang kecil di sekolah-sekolah ilmu agama hingga serambi-serambi ramai di Haram Suci (Makam Suci Sayyidah Fatimah Ma'sumah as), Qom kini berdiri dalam detak yang tak berujung sebagai tuan rumah bagi "umat yang setia pada kepemimpinan".

Di sinilah kota ilmu, fikih, dan kebangkitan; tempat di mana hawzah-hawzah ilmiyah, tidak hanya dalam kapasitasnya sebagai lembaga pendidikan, tetapi dalam wujud para pelayan yang penuh cinta, mengibarkan panji-panji pelayanan untuk mengukir lembaran baru dalam sejarah tentang ikatan tak terpisahkan antara "umat dan kepemimpinan".

Penutupan Sementara Hawzah Ilmiah; Awal Jihad Pelayanan

Dalam langkah terkoordinasi, Pusat Manajemen Hawzah Ilmiah dengan mengeluarkan pernyataan resmi, menutup sementara seluruh perkuliahan, kegiatan pendidikan, dan kantor-kantor hawzah di seluruh negeri, khususnya di Qom, guna memberikan pelayanan kepada para peziarah dan peserta pemakaman almarhum Syahid Iran. Keputusan ini, yang menunjukkan pemahaman mendalam dari pimpinan tinggi hawzah akan kebesaran peristiwa "Tasyyi' Imam Syahid", membuka jalan bagi partisipasi maksimal para pelajar agama, ulama, dan dosen. Dengan perintah ini, seluruh kemampuan logistik dan infrastruktur sekolah-sekolah ilmu agama yang sebelumnya melayani berbagai pilar pendidikan, penelitian, budaya, santri, dan ulama, sekaligus beralih fungsi menjadi "markas pelayanan kepada para peziarah".

Sebagian besar sekolah-sekolah ilmu agama, dengan persiapan dan pengaturan yang diperlukan pada bagian-bagian pendidikan dan administrasi, mengubah ruang luas sekolah-sekolah tersebut menjadi asrama-asrama sementara bagi para peziarah, dan seluruh kapasitas penerimaan tamu, dapur-dapur, serta fasilitas-fasilitas kesejahteraan hawzah telah berubah menjadi medan mobilisasi umum. Dari gedung pusat manajemen hingga setiap kantor di bawahnya, semuanya kini dalam keadaan siaga penuh untuk memberikan dukungan spiritual dan pelaksanaan acara dengan kemampuan maksimal. Di tengah semua ini, penutupan perkuliahan bukanlah sebuah jeda pendidikan, melainkan pengiriman para santri (pelajar agama) ke "sekolah besar pengorbanan"; sebuah medan di mana pelajaran "kesetiaan kepada kepemimpinan" dipraktikkan secara nyata dan heroik melalui kehadiran di lapangan dan pelayanan kepada rakyat.

Terbitnya Pelayanan dari Ruang-Ruang Kecil yang Penuh Gejolak

Masih tersisa dua hari menuju kehadiran terakhir Imam Syahid kami di kota suci Qom, tetapi di setiap sudut jalan terdengar lantunan "Ya Husain (as)" dan "Ya Khamenei (as)", serta rombongan-rombongan duka yang dipusatkan oleh para ulama terkemuka bergerak menuju Haram Suci Sayyidah Fatimah Ma'sumah as. Di jantung hawzah-hawzah ilmu agama, di tempat yang hingga kemarin suara diskusi dan laporan-laporan ilmiah masih terdengar di telinga, hari ini keramaian lain terjadi. Para santri muda, mereka yang merupakan pewaris fikih, melilitkan jubah mereka di pinggang dan menyingsingkan lengan-lengan tekad mereka. Inilah sekolah ilmu agama; tempat di mana ilmu menyatu dengan amal, sehingga di hari-hari sulit, ia menjadi penopang bagi rakyat.

Ini bukan sekadar perkabungan; ini adalah "manuver kasih sayang dan kehormatan". Para pelajar agama dan ulama dari hawzah-hawzah Ilmiah Qom, dengan memahami kedalaman musibah syahidnya "Imam Syahid", telah mengubah setiap sekolah menjadi pusat pelayanan yang bergelora. Ruang-ruang kecil yang hingga kemarin menjadi tempat menimba ilmu, kini berubah menjadi tempat-tempat perencanaan untuk menyambut para peziarah yang berdatangan dari berbagai penjuru Iran menuju "ibu kota Tasyayyu'".

Mawkib-Mawkib dengan Wangi "Husainiyah"

Di setiap sudut kota, dari Lapangan Astaneh hingga Boulevard Nabi Agung (saw), dari Jalan Syahid Shaduqi hingga Jalan 19 Dey, dan dari Lapangan Imam Khomeini (ra) hingga Lapangan Polisi, serta di setiap titik di mana terdapat hawzah dan sekolah ilmu agama, mawkib-mawkib kecil dan besar didirikan oleh para pelajar agama dan ulama hawzah, yang bukan hanya tempat penerimaan tamu, tetapi juga benteng jihad pencerahan. Ketika seorang peziarah yang lelah menerima seteguk teh hangat dari tangan seorang santri yang di dadanya tertera nama "Imam Syahid", ini adalah sesuatu yang tidak sekadar penerimaan sederhana; sebuah hati terikat dengan hati lainnya.

Mawkib-Mawkib hawzah, dengan penampilan sederhana namun kedalaman batin yang dalam, telah menjadi majelis untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan atau syubhat-syubhat, pembacaan ratapan singkat, dan doa untuk keselamatan (doa al-faraj) demi penuntutan balas atas darah almarhum Syahid Iran. Di sinilah tempat ketenangan berada. Para musafir di jalan ini, yang dari berbagai penjuru Iran datang untuk mengiringi pemakaman jenazah pemimpin mereka, tidak merasakan "keterasingan" di mawkib-mawkib ini; karena hawzah telah membentangkan pelukannya bagi mereka.

Kemegahan Solidaritas; dari Jami'ah al-Zahra (sa) hingga Ma'sumiyah

Dalam duka yang menyayat hati ini, para santri perempuan pun dengan langkah dan suara yang seirama dengan para santri laki-laki, menciptakan sebuah epik yang abadi. "Jami'ah al-Zahra (sa)" dan "Lembaga Pendidikan Tinggi Hawzah Ma'sumiyah untuk Kaum Wanita" telah menjadi pusat-pusat akomodasi dan dukungan. Ruang-ruang pendidikan dan asrama, dengan perencanaan yang cermat, membentangkan pelukan mereka untuk menyambut dan melayani keluarga-keluarga para peziarah.

Gambaran para santri wanita yang dengan mengenakan hijab panjang dan wajah-wajah penuh tekad, sibuk mengurus akomodasi para peziarah yang terhormat, adalah simbol dari "kekuatan yang penuh kasih sayang". Mereka membuktikan bahwa hawzah tidak hanya hadir dalam pelajaran dan diskusi, tetapi juga berada di jantung dinamika masyarakat. Lembaga Ma'sumiyah untuk santri Wanita, yang merupakan simbol peradaban hawzah, kini telah menjadi tempat berlindung bagi para wanita berduka yang datang dari kota-kota jauh untuk mengiringi "bapak spiritual" mereka.

Kantor Dakwah di Medan Dakwah dan Pencerahan

Di tengah gelombang semangat ini, "Kantor Dakwah Islamiyah Hawzah Ilmiah Qom" memegang peran strategis dan spiritual. Lembaga ini dengan memobilisasi kapasitas ilmiah dan dakwahnya, bertanggung jawab atas koordinasi antar sekolah-sekolah dan kelompok-kelompok jihad. Mulai dari pencetakan paket-paket budaya untuk menjelaskan kedudukan kepemimpinan (wilayah) hingga pengiriman para juru dakwah yang berpandangan tajam (bashirah) ke tengah-tengah kerumunan jutaan peserta tasyyi', semuanya adalah tanda dari sebuah gerakan yang terorganisir dan terarah.

Kantor Dakwah Islamiyah, dengan memahami sensitivitas momen-momen bersejarah ini, telah berupaya untuk menghubungkan semangat perkabungan ini dengan kesadaran revolusioner. Pesan-pesan mereka adalah garis kebijakan untuk hari-hari ini, tidak hanya bagi Hawzah Ilmiah Qom dan kota Qom, tetapi juga di seluruh penjuru Iran Islami; pesan-pesan yang di satu sisi menekankan "duka yang mendalam" dan di sisi lain menekankan "kelanjutan jalan Imam Syahid".

Ketika Iman Membangun Rumah

Tempat menginap bagi para santri peziarah dari seluruh penjuru negeri yang datang ke Qom untuk berpartisipasi dalam upacara pemakaman, adalah cerita yang layak disimak. Di hari-hari yang penuh mobilitas ini, sekolah-sekolah ilmu agama dalam langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya, telah mengerahkan seluruh kapasitas mereka. Para penghuni ruang-ruang kecil di Qom telah menyerahkan ruang mereka kepada saudara-saudara seprofesi yang datang sebagai peziarah, sehingga budaya "pengorbanan hawzah" sekali lagi terwujud dalam tindakan nyata.

Di sini, madrasah bukan lagi sekadar madrasah; ini adalah rumah bagi umat. Di setiap sudut sekolah-sekolah kecil dan besar hawzah, dapat dilihat sekelompok santri yang meskipun kelelahan, dengan senyum dan pelukan terbuka menyambut para peziarah Imam Syahid. Solidaritas di antara para santri hawzah ini adalah pesan yang jelas kepada dunia: "Kami masih tetap teguh pada janji kami."

Perpisahan yang Menjadi Awal dari Sebuah Epik

Qom, kota yang merupakan tempat kelahiran revolusi Imam al-Khomeini (ra), kini dalam perpisahan dengan "Imam Syahid", memikul amanat berat di pundaknya. Upaya siang-malam para santri, ulama, dan lembaga-lembaga hawzah bukan sekadar pelayanan administratif; ini adalah "jihad fi sabilillah". Mereka menjaga apa yang telah diperjuangkan oleh Imam Syahid sepanjang hidupnya yang penuh berkah: "menjaga Islam yang murni dan kepemimpinan wali fakih."

Ketika besok, gelombang besar massa mengusung jenazah suci hamba Allah yang saleh itu di pundak mereka, di tengah kerumunan itu, kehadiran kompak para santri dan ulama yang jubah keagamaan mereka adalah simbol ikatan berdarah mereka dengan kepemimpinan, akan memiliki kilau tersendiri. Mereka di samping rakyat, untuk rakyat, dan bersama rakyat, akan membisikkan perpisahan terakhir dengan "pemimpin mereka"; sebuah perpisahan yang, tidak seperti semua perpisahan, bukanlah tanda akhir, melainkan awal dari babak baru dalam sejarah perlawanan Islam.

Qom, hari ini adalah ibu kota semangat dan kesadaran, dan Hawzah Ilmiah adalah jantung yang paling berdenyut di ibu kota ini; jantung yang hingga detakan terakhirnya akan berdenyut karena cinta pada pemimpin dan di jalan cita-cita syahid yang mulia itu. Di sini, di samping gerbang Makam Suci Sayyidah Fatimah Ma'sumah (sa), kami berdiri untuk menjadi pencerita hari-hari ketika iman mengguncang kota, dan hawzah-hawzah menjadi tenda-tenda bagi epik besar ini.

Sinergi Antar Lembaga untuk Tasyyi

Di samping gelombang semangat para santri hawzah dan kehadiran rakyat, lembaga-lembaga eksekutif, pelayanan, dan pengawasan di provinsi Qom pun dengan semangat yang patut diteladani turun ke lapangan untuk memastikan upacara tasyyi' jenazah almarhum Syahid Iran berlangsung dengan kemegahan dan ketertiban yang maksimal. Mulai dari pemerintah kota dan transportasi perkotaan hingga pasukan keamanan, unit gawat darurat, Palang Merah, pemadam kebakaran, dan seluruh rangkaian penyedia layanan, semuanya dengan pembagian tugas yang rinci dan koordinasi setiap saat, telah dimobilisasi untuk memperlancar lalu lintas, menjamin keamanan, menyediakan tempat menginap bagi para peziarah, dan memberikan pelayanan tanpa henti.

Di tingkat pengawasan, dengan kehadiran langsung para pejabat di lapangan dan pemantauan berkelanjutan terhadap jalannya pelaksanaan, diupayakan agar tidak terjadi kekurangan dalam ketertiban, kesehatan, dan ketenangan acara. Kohesi yang langka ini antar berbagai lembaga telah menjadikan Qom sebagai panggung solidaritas nasional; panggung di mana semua orang bahu-membahu untuk menjadikan perpisahan dengan "almarhum Syahid Iran" bukan sekadar sebuah upacara, melainkan sebuah pertunjukan persatuan, manajemen jihad, dan penghormatan sebuah bangsa terhadap pahlawannya.

Terbitnya Ikrar Janji di Subuh Hari Selasa

Upacara tasyyi' agung "almarhum Syahid Iran" akan dimulai pada dini hari Selasa, 6 Juni 2026 dengan pelaksanaan program-program keagamaan khusus dan pembacaan munajat dan doa di Masjid Agung Jamkaran. Tempat pertemuan para penanti di waktu subuh, akan menyaksikan lautan para pecinta yang berkumpul dari seluruh penjuru Iran dan banyak negara di dunia Islam untuk mengucapkan selamat tinggal kepada pemimpin syahid Revolusi Islam. Puncak dari kehadiran penuh cinta ini akan terjadi pada pukul 5 pagi; ketika salat jenazah atas jenazah suci pemimpin bijaksana itu akan dilaksanakan dengan diimami oleh marja' tinggi dunia Syi'ah, Yang Mulia Ayatullah al-Udzma Abdullah Jawadi Amuli. Setelah gema doa salat bergema di atmosfer spiritual Jamkaran dan jalan-jalan sekitarnya serta Jalan Utama Nabi Agung (saw), jenazah Imam Syahid akan dipanggul di pundak lautan pelayat, memulai prosesi tasyyi' menuju Makam Suci Sayyidah Fatimah Ma'sumah (sa), sehingga Qom sekali lagi akan menjadi saksi perpisahan paling bersejarahnya dengan seorang pria yang mengabdikan seluruh keberadaannya untuk Islam, Revolusi Islam. 

Tagar

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha